Banyuwangi jejakinformasi.id Genteng Kulon- Kecamatan Genteng,. Suara peluit panjang di Stadion Maron tak benar-benar mengakhiri pertandingan panas antara PMJ FC Krikilan melawan Persegam. Yang tersisa justru kepulan emosi, teriakan suporter, dan situasi yang berubah menjadi ricuh di pinggir lapangan. Turnamen yang semestinya menjadi ajang sportivitas justru berakhir dengan ketegangan yang memalukan.
Laga yang sejak awal berlangsung keras itu memuncak saat pertandingan memasuki babak adu penalti. Ketegangan antarsuporter mulai sulit dikendalikan. Teriakan provokasi terdengar dari sejumlah tribun. Di tengah situasi yang mulai memanas, aparat keamanan dinilai lamban merespons dan minim langkah antisipasi.
Beberapa saksi di lokasi menyebut, situasi chaos sebenarnya sudah terlihat sejak menit-menit akhir babak kedua. Namun penjagaan dianggap terlalu longgar. Penonton bebas bergerak mendekati area lapangan tanpa penyekatan ketat.
“Dari awal sudah kelihatan panas. Tapi tidak ada langkah pengamanan serius. Saat penalti suasana langsung pecah,” ujar salah satu penonton yang enggan disebut namanya.
Pertandingan akhirnya tak mampu dilanjutkan secara normal. Keputusan kontroversial kemudian muncul dari panitia pelaksana yang menetapkan WO terhadap PMJ FC. Keputusan itu justru memantik kemarahan kubu suporter dan official tim. Ketegangan semakin menjadi hingga banyak penonton memilih meninggalkan stadion lebih awal demi menghindari bentrokan lebih besar.
Di tengah kisruh tersebut, tokoh sepak bola lokal Andre Tri Waluyo meluapkan kemarahannya. Ia menilai kericuhan di Stadion Maron bukan sekadar insiden spontan, melainkan cerminan buruknya tata kelola pertandingan dan lemahnya koordinasi penyelenggara.
Andre secara terbuka meminta Ketua PSSI Kabupaten Banyuwangi bertanggung jawab atas kekacauan tersebut. Bahkan ia menyebut sudah saatnya dilakukan evaluasi total terhadap kepemimpinan organisasi sepak bola daerah itu.
“Ini bukan lagi soal kalah atau menang. Ini soal kegagalan menjaga marwah sepak bola Banyuwangi. Kalau setiap turnamen berakhir ricuh, berarti ada yang salah dalam sistem pengamanan dan kepemimpinan,” tegas Andre.
Ia juga menyoroti minimnya kesiapan aparat keamanan di lapangan. Menurutnya, pertandingan dengan tensi tinggi semestinya mendapat pengamanan ekstra, terutama saat memasuki fase krusial seperti adu penalti.
“Pengamanan seperti tidak siap menghadapi situasi panas. Koordinasi amburadul. Penonton bisa bebas masuk area tertentu. Ini fatal,” ujarnya dengan nada keras.
Kericuhan Stadion Maron kini menjadi sorotan publik pecinta sepak bola Banyuwangi. Banyak pihak mempertanyakan standar pengamanan pertandingan yang dinilai jauh dari profesional. Beberapa suporter bahkan menilai keputusan WO terhadap PMJ FC terkesan tergesa-gesa dan memperkeruh keadaan.
Situasi ini memunculkan desakan agar penyelenggara turnamen dan asosiasi sepak bola daerah segera melakukan investigasi menyeluruh. Evaluasi tidak hanya pada aspek teknis pertandingan, tetapi juga manajemen keamanan, koordinasi panitia, hingga kapasitas kepemimpinan organisasi.
Bagi banyak pecinta sepak bola lokal, kericuhan Stadion Maron bukan sekadar insiden lapangan. Peristiwa itu dianggap menjadi alarm keras bahwa kompetisi akar rumput di Banyuwangi sedang menghadapi problem serius: lemahnya manajemen, buruknya mitigasi konflik, dan atmosfer pertandingan yang semakin kehilangan nilai sportivitasnya.
(RD-Ji)